Batujajar Barat – Bandung Barat   +62 857-9495-8705

Sejarah Berdiri

Berdasarkan Pendataan penduduk yang dilakukan oleh BPPPAKB Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2014 jumlah penduduk Kabupaten Bandung Barat berjumlah 1.599.905 jiwa, didominasi usia remaja sebesar 31,6% dari total penduduk atau sebanyak 457.693 jiwa.

 

Data mini survei pemantauan PUS BKKBN Prov. Jabar 2013 menunjukkan bahwa usia kawin pertama perempuan di Kabupaten Bandung Barat 7,1 % terjadi pada usia di bawah 14 tahun dan 64 % terjadi pada rentang usia 15 – 19 tahun.

 

Hasil penelitian puslitbang kependudukan BKKBN tahun 2011 menemukan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi median usia kawin pertama perempuan diantaranya yaitu faktor sosial, ekonomi, budaya dan tempat tinggal (desa/kota). Diantara beberapa faktor tersebut ternyata faktor ekonomi yang paling dominan terhadap median usia kawain pertama perempuan. Hal ini dilatarbelakangi alasan kemiskinana karena tidak mampu membiayai sekolah anaknya sehingga orang tua ingin anaknya segera menikah agar lepas tanggung jawab dan orang tua berharap setelah anaknya menikah akan mendapat bantuan ekonomi.

 

Dari sisi pengendalian penduduk pernikahan yang terjadi di bawah usia 20 tahun sangat signifikan terhadap pertambahan jumlah penduduk di suatu wilayah, karena  semakin muda usia kawin pertama (UKP) akan mempengaruhi rentang waktu seorang wanita untuk melahirkan anak selama masa suburnya (Total Fertility Rate/TFR).

 

Dari sudut pandang Ketahanan Keluarga pernikahan yang terjadi di bawah usia 20 tahun (pernikahan dini) akan sangat rentan menghadapi berbagai permasalahan dalam keluarga, bahkan sering kali berujung pada perceraian. Hal ini disebabkan rendahnya pengetahuan calon pengantin tentang kehidupan berkeluarga, serta belum matangnya fisik, psikologis, emosional, sosial, dan finansial.

 

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, memberikan gambaran bahwa pernikahan dini akan menghadapka remaja pada potensi gangguan untuk mencapai tugas-tugas perkembangannya. Tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan remaja tersebut adalah :

  1. Tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan remaja secara individual, yaitu pertumbuhan fisik, perkembangan mental, emosional dan spiritual.
  2. Tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan remaja secara sosial. Oleh Bank Dunia (2007), masa transisi kehidupan remaja dibagi menjadi 5 transisi kehidupan (Youth Five Life Transitions), antara lain :
  3. Melanjutkan sekolah (continue learning)
  4. Mencari pekerjaan (start working)
  5. Melalui kehidupan berkeluarga (form families)
  6. Menjadi anggota masyarakat (exercise citizenship)
  7. Mempraktikkan hidup sehat (practice helathy life)

 

Untuk merespon permasalahan remaja tersebut, pemerintah Kabupaten Bandung Barat melakukan berbagai program dan kegiatan yang disebar ke instansi berkaitan sesuai dengan tugas, pokok dan fungsi sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan sebagai berikut:

  1. Undang-undang No 52 Tahun 2009 tentang perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Dalam pasal 48 ayat (1) pada huruf b menyebutkan bahwa peningkatan kualitas remaja dengan pemberian akses informasi, pendidikan, konseling dan pelayanan tentang kahidupan berkeluarga. Peningkatan kualitas remaja melalui pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga oleh BKKBN.
  2. Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2010 tentang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.
  3. Peraturan Kepala BKKBN nomor 72/PER/B5/2011 tentang organisasi dan tata kerja Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.
  4. Peraturan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Nomor 82/PER/B5/2011 tentang organisasi dan tata kerja Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.
  5. Peraturan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Nomor 92/PER/B5/2011 tentang organisasi dan tata kerja Balai Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana.
  6. Peraturan Bupati Bandung Barat no 62 tahun 2012, tentang Tupoksi Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana.
  7. Peraturan Bupati Bandung Barat No 23 Tahun 201, tentang Pengelolaan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja).
  8. Peraturan Bupati Bandung Barat No. 24 Tahun 2015, tentang Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP).

 

PIK Remaja adalah wadah yang dikembangkan dalam Program GenRe, yang dikelola dari, oleh dan untuk Remaja/Mahasiswa guna memberikan pelayanan informasi dan konseling tentang :

  1. Kependudukan dan Pembaangunan Keluarga
  2. Keterampilan Hidup (Life Skill)
  3. Kesehatan Reproduksi Remaja
  4. Penyiapan Kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja
  5. Materi penunjang lainnya

 

Ciri utama PIK R/M adalah ramah remaja, hal ini bertujuan agar para remaja/mahasiswa bisa memperoleh informasi yang menarik minat mereka, untuk mencapai ciri ini maka pengelolaan PIK Remaja dilakukan dari, oleh dan untuk remaja/mahasiswa.

 

PIK Remaja Rumah Remaja merupakan salah satu dari kelompok PIK Remaja yang ada di Kabupaten Bandung Barat lebih tepatnya berada di Kecamatan Batujajar. PIK Remaja Rumah Remaja didirikan pada tanggal 12 Februari 2005 mempunyai fungsi strategis yaitu sebagai mitra sejajar bagi PIK Remaja lainnya dalam hal berbagi pengalaman pengelolaan dan pengembangan PIK Remaja.

PIK Remaja Rumah Remaja menetapkan lingkungan (basis) pengembangan pada tiga basis sekaligus, yaitu:

  1. Jalur sekolah umum/agama
  2. Jalur organisasi keagamaan
  3. Jalur organisasi kepemudaan dan LSM

 

Implementasi dari penetapan tiga basis (ruang lingkup) pengembangan PIK Remaja Rumah Remaja maka ditetapkan empat strategi pengembangan yaitu :

Strategi pertama, yang ditempuh dalam pengambangan PIK Remaja Rumah Remaja adalah dengan pendirian unit-unit kerja PIK Remaja Rumah Remaja di sekolah-sekolah tingkat SMA dan SMP. Strategi tersebut dipilih mengingat 90 % remaja di wilayah Kecamatan Batujajar berada diberbagai Lembaga pendidikan formal sehingga strategi ini dipandang akan lebih memudahkan penetrasi program-program PIK Remaja Rumah Remaja pada sasarannya yaitu remaja.

Strategi kedua, pengembangan PIK Remaja Rumah Remaja adalah dengan merangkul dunia pendidikan informal yaitu pondok pesantren, majelis ta’lim dan kelompok pengajian lainnya.

Strategi ketiga, dalam strategi pengembangan PIK Remaja Rumah Remaja adalah mengupayakan terjalin kemitraan dengan organisasi kepemudaan dan organisasi remaja lainnya.

Strategi keempat adalah menjalin kerjasama aktif dan saling menguntungkan dengan institusi-institusi baik swasta maupun pemerintah. Cara ini ditempuh dalam rangka advokasi untuk meningkatkan kualitas dan keberlangsungan PIK Remaja Rumah Remaja.

Batujajar Barat – Bandung Barat   +62 857-9495-8705

Contact Form

Kirim